Selasa, 15 Mei 2012

Ketika Yesus Menjadi Sangat Marah



Tahukah Anda, bahwa pada suatu kali Yesus pernah marah, bahkan menjadi sangat marah, melebihi dari apa yang bisa atau pernah orang-orang bayangkan? Ketika itu, Dia masuk ke halaman bait Allah, yang sedang penuh sesak dengan kehadiran banyak orang. Dia membawa sesuatu yang seperti sebuah cambuk di tangan-Nya. Wajah-Nya jadi memerah karena menahan emosi kemarahan, dan urat-urat-Nya menegang. Kemudian, hal itu pun terjadilah: amarah-Nya meledak, bak gunung api yang memuntahkan lahar panas, yang menghanguskan semua yang ada di sekelilingnya.
       “Keluuaaar! Kalian semua… keluar dan bawa semua barang-barang ini dari sini!” Dia menghardik dan mengusir semua orang yang sedang berjualan di situ. Sambil meneriakkan hardikan itu, Dia bergerak kearah mereka, dengan melibas-libaskan cambuk di tangan-Nya, yang sesekali menimbulkan bunyi “ctaaar!”–akibat persentuhan keras dengan udara, karena dihentakkan dengan kecepatan tinggi. Atau, karena persentuhan, yang cukup keras, antara ujung cambuk dengan permukaan benda-benda, yang terkena libasan dari cambuk itu.

Senin, 30 April 2012

Dekadensi Moral dan Spiritual dan Praktek-praktek Terlarang di dalam Gereja


Sudah cukup lama juga saya tidak aktif memostingkan sesuatu di blog ini. Sungguh hal itu dikarenakan adanya hal-hal lain yang sedemikian menyita waktu dan perhatian saya akhir-akhir ini, sehingga dengan sangat menyesal terpaksa saya harus meninggalkan blog ini untuk sementara. Saya sangat berharap kiranya mulai sekarang saya sudah bisa untuk memberikan waktu dan perhatian buat mengurus blog ini lagi. Postingan kali ini saya ambilkan saja dari sebuah perikop dalam Bab pertama buku saya, Rumah Tuhan menjadi Sarang Penyamun, dari edisi ebook yang terbarunya (release April 2012).

Dekadensi Moral dan Spiritual
dan Praktek-praktek Terlarang
di dalam Gereja
Pandangan yang sekilas saja seperti yang kita lakukan tadi terhadap gereja yang ada sekarang ini sudah membuat kita memberi nilai yang buruk. Lalu bagaimana kalau kita memeriksanya secara lebih ke dalam lagi? Mungkin saja kan, yang akan kita temukan di sana nanti hasilnya lebih positif dari yang kita dapatkan dengan pandangan yang hanya sepintas tadi? Sejujurnya, saya pun mengharapkan yang demikian. Tetapi, sangat disayangkan sekali karena ternyata ketika saya memeriksanya lebih jauh, semakin ke dalam bukannya lebih positif hasilnya, malahan semakin terlihatlah dengan lebih nyata lagi keburukan-keburukan di dalamnya (buku ini tidak lain dari catatan yang merupakan hasil dari pemeriksaan secara lebih mendalam yang saya lakukan tersebut).